Upaya Pembaharuan Metodologi Gerakan Sosial IMM
Oleh
: Immawan Ainur Rifqi A.R ( PC IMM Malang Raya )
Latar Belakang
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
merupakan sebuah organisasi yang lahir
pada tahun 1964 sebagai respon positif dalam menghadirkan perubahan yang lebih
baik terhadap kondisi umat, bangsa, dan negara di masa yang akan datang.
Sebagai organisasi yang memiliki payung besar Muhammadiyah, IMM tidak pernah
lepas dari Gerakan Sosial yang menjadi ruh dalam mencapai tatanan sosial yang
ideal. Hal itu terbukti jelas dengan keterikatan antara tujuan IMM yang secara
langsung ataupun tidak langsung harus mendukung cita-cita Muhammadiyah.
Kehidupan sosial di Indonesia,
menurut Sukadiono (Bendahara PWM Muhammadiyah Jawa Timur) dalam wawancaranya
dengan media akhir-akhir ini terkait persiapan pelaksanaan Tanwir Aiyiah
menuturkan bahwa salah satu permasalahan krusial dalam kehidupan bangsa
Indonesia ialah masalah perekonomian seperti kemiskinan, kesenjangan sosial,
penguasaan kekayaan negara oleh sekelompok kecil masyarakat. Permasalahan
sosial memang tidak bisa dilepaskan dari faktor ekonomi, bahkan dalam beberapa
buku menyebutkan bahwa faktor ekonomi menjadi penentu dalam mencapai tatanan
sosial yang baik. Seperti dilihat dari angka garis kemiskinan pada tiap kota
(Data BPS) memang menyajikan adanya pertambahan nominal angka. Namun, hal ini
juga tidak bisa dilihat secara parsial tanpa memperhitungkan adanya kenaikan
harga-harga komoditi yang terus melonjak naik.
Nama Wilayah
|
Garis Kemiskinan
Menurut Kabupaten/Kota (Rupiah/kapita/bulan)
|
||
2015
|
2016
|
2017
|
|
Kota Jakarta Pusat
|
484526.00
|
503304.00
|
524750.00
|
Bandung
|
275562.00
|
297483.00
|
310569.00
|
Kota Yogyakarta
|
383966.00
|
401193.00
|
423815.00
|
Malang
|
265629.00
|
282933.00
|
294904.00
|
Data BPS update terakhir: 3 Januari 2018
Perkembangan zaman yang sangat
cepat, diiringi dengan perkembangan teknologi mengakibatkan perpindahan paradigma
dari kehidupan nyata menuju kehidupan maya, yang dekat menjadi jauh dan yang
jauh bisa jadi dekat. Manusia dijauhkan dari realitas objektif melalui
perpindahan paradigma ini, hal ini ditandai dengan maraknya ucapan simbolis
rasa empati akan suatu tragedi sosial yang sangat ramai di media sosial
berbanding terbalik dengan aksi nyata dalam upaya pencapaian tatanan sosial
yang ideal.
Jika gerakan sosial dimaknai sebagai
usaha untuk mengubah situasi (kondisi) kepada keadaan baru yang dipandang lebih
baik dan bermakna menuju realisasi keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan
manusia. Maka demonstrasi 1965, 1998, dan berbagai upaya demontrasi lain dapat
dikategorikan sebagai gerakan sosial. Namun dalam penerapan di era yang semakin
berkembang ini, mahasiswa seakan kehilangan tema untuk menciptakan tema dalam
pembuatan demonstrasi. Hal ini memunculkan pertanyaan besar terkait model
gerakan sosial yang sesuai perkembangan zaman.
Oleh karenanya, penulis mencoba
menumpahkan gagasan nya dalam pembentukan “Metodologi Gerakan Sosial IMM” dalam
essay ini sebagai bahan konstruktif dalam perjalanan IMM menghadapi tantangan
perkembangan zaman.
Riset Question
1) Metodologi
Gerakan Sosial IMM : Bagaimana dan harus seperti apa ?
Kerangka Teori
Analisis Permasalahan dengan
menggunakan Teori
Gerakan
mahasiswa akan semakin buntu dan stagnan jika tidak ada pembaharuan metode.
Jika dulu para politisi sangat berpengaruh pada kehidupan bernegara, sekarang
peran personal branding bisa jadi
lebih berpengaruh. Kehidupan bernegara semakin kompleks dengan munculnya
berbagai institusi pendukung status quo.
Perubahan adalah ancaman bagi mereka yang nyaman dengan kekuasaan yang
diemban. Perlu adanya pembahasan
mengenai bagaimana gerakan sosial harusnya dirancang.
Jika
mencari Metodologi Gerakan Sosial IMM pada mesin search engine google dengan menggunakan tanda petik akan
membuktikan minimnya referensi penulisan terkait hal ini, terbukti dengan tidak
ditemukannya kata tersebut. Metodologi
(Pengantar Metodologi Research Sosial, 1983) berasal dari kata Yunani,
methodos = meta + hodos = jalan sampai atau jalan menuju, logos = pengetahuan.
Metodologi secara umum merupakan sebuah ajaran tentang jalan menuju tujuan yang
diharapkan.
Gerakan (Strategi Membuka Jalan
Perubahan,2006) dapat dipahami sebagai usaha untuk mengubah situasi (kondisi)
menuju ke keadaan baru. Dalam kerangka kehidupan masyarakat, maka gerakan tidak
lain dari berbagai upaya yang memaksudkan untuk mengubah tatanan yang tidak
adil, menuju sebuah tatanan baru yang lebih memberi jaminan pada realisasi
keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan umat manusia. Penyusunan kekuatan
gerakan menjadi proses bertahap dalam upaya menggelar tindakan aksi nyata demi
perubahan bergulir.
Oleh karenanya, Metodologi Gerakan
Sosial IMM dapat dimaknai sebagai rancangan cara dalam merubah keadaan sosial
ke arah yang lebih baik berpedoman pada nilai-nilai IMM. Nilai IMM dalam hal
ini meliputi segala hal yang menjadi ruh organisasi, seperti enam penegasan,
trilogi, trikompetensi dasar, tujuan IMM, dan berbagai jati diri IMM lainnya
agar gerakan sosial tetap terangkum dalam nilai fastabiqul khoirot.
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ
حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada
pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’d:
11)
Perubahan tidak akan pernah tercipta
tanpa adanya usaha dari pelaku perubahan. Oleh karenanya, gerakan sosial
menjadi upaya perubahan menuju lebih baik sesuai Q.S Ar-Ra’du ayat 11. Ayat ini
menjadi sebuah kritik tajam bagi mereka yang pandai berwacana, tapi sedikit
aksi. Perubahan dilakukan melalui sebuah gerakan yang nyata, bukan hanya
sekadar wacana. Konstruk sosial dalam tatanan masyarakat telah berkembang
dengan sedemikian kompleks. Arus globalisasi dan liberalisasi menjadi kunci
percepatan pertumbuhan yang melupakan angka semakin timpangnya kehidupan
sosial. Hal ini tidak dapat dilawan dan dihentikan, jika tidak ada sebuah
pelaku perubahan didalamnya.
Teori Antonio Gramsci (Anatomi dan
Perkembangan Teori Sosial,2010) mengenai hegemoni, menjelaskan hegemoni
bukanlah dominasi, melainkan hubungan persetujuan dengan menggunakan
kepemimpinan politik dan ideologis. Gramsci lebih melihat bahwa kemenangan
adalah milik mereka yang dapat menyampaikan ide dan gagasannya dengan disertai
paling banyak persetujuan dari berbagai pihak. Lebih lanjut, hegemoni lebih
merupakan suatu kemenangan yang dipeoleh melalui konsensus daripada penindasan
suatu kelas sosial terhadap kelas lainnya. Dalam konsep Gramsci, kunci bagi
suatu perubahan yakni bagaimana melawan hegemoni dengan counter-hegemoni. Karenanya, kesadaran dan pengetahuan tiap
individu pelaku perubahan menjadi basis dasar dalam upaya gerakan sosial.
Teori ini terbukti dengan kondisi
Indonesia hari ini, berbagai bentuk ketidakadilan dan kesewenang-wenangan
pemerintah dalam pengelolaan negara seakan menjadi angin lalu dalam kehidupan
bernegara tanpa adanya gangguan yang signifikan. Tentu hal ini membuktikan,
bahwa penguasa mampu menjalankan hegemoni dengan dukungan instansi lain,
seperti media dan lembaga lain dalam upaya membenarkan segala bentuk kegiatan
penguasa. Hegemoni harus dilawan dengan counter-hegemoni,
penyadaran baik individu maupun kolektif menjadi kunci awal dalam perwujudan
gerakan sosial.
Dalam upaya counter-hegemoni, membutuhkan adanya upaya melalui berbagai jalur,
sedikit mengadopsi dari paparan Lambang Trijono (Kekerasan dan Konflik,2001)
bahwa jalur multitrack itu meliputi banyak hal, baik sektor pemerintah maupun
sipil, dengan melibatkan berbagai lapisan sosial, baik atas, menengah, maupun
lapisan bawah, dengan pendekatan yang berbeda. Dalam proses pendekatan lapisan
atas menggunakan negosiasi tingkat tinggi, lapisan menengah menggunakan dialog
pemecahan masalah, dan lapisan bawah menggunakan pembangunan komunitas
dialogis, seperti piramida multi-level dan multi jalur dari Lederach,1998 :
Dalam hal ini, gerakan sosial harus memilah dan memilih, siapa dan bagaimana pendekatan yang harus dibangun. Lapisan atas, menengah, dan bawah perlu disatukan dalam sebuah keinginan dan harapan yang satu, demi keadilan sosial bagi seluruhnya.
Selanjutnya, David Aberle membagi tipe gerakan sosial menjadi empat bagian :
Selanjutnya, David Aberle membagi tipe gerakan sosial menjadi empat bagian :
1)
Alternative Social Movements, gerakan sosial yang
menekankan perubahan pada perilaku perorangan, seperti gerakan anti-merokok,
anti- narkoba.
2)
Redemptive Social Movements, gerakan sosial yang
menekankan perubahan menyeluruh pada perilaku perorangan, seperti fungsi agama
pada diri seseorang.
3)
Reformative Social Movements, gerakan sosial yang
menekankan perubahan pada segi-segi tertentu masyarakat, seperti gerakan
feminisme, gerakan demontrasi mengganti struktur pemerintahan.
4)
Transformative Social Movements, gerakan sosial yang menekankan
perubahan menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat, seperti Revolusi Kamboja,
Revolusi China.
Dalam
hal ini penulis mencoba mengaitkan antara empat tipe gerakan kedalam sebuah
satu kesatuan yang saling terhubung dan berkaitan seperti gambar dibawah ini :
Gerakan Sosial haruslah dimulai dari
hal yang paling kecil, yakni perubahan per-orangan, sehingga tiap individu
memiliki sebuah keteguhan dan keyakinan akan prinsip yang harus diembannya.
Begitupun Gerakan Sosial haruslah memiliki hal yang paling besar untuk dituju
sebagai sebuah acuan dan cita-cita dalam proses perkembangan gerakan. Sehingga,
gerakan sosial selalu mengalami pembaharuan ataupun inovasi sesuai perkembangan
zaman dalam mencapai tujuan besar.
Banyak gerakan sosial yang hanya
berkutat pada gerakan-gerakan momentual yang tidak berkelanjutan, seperti Bakti
Sosial di Desa yang menjadi program kerja tahunan di tingkat komisariat kurang
memiliki strategi jangka panjang. Upaya penyadaran atau pendidikan pada tiap
individu melalu Alternative Social
Movements yang dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif melahirkan Redemptive Social Movements. Kekuatan
gerakan sosial terletak dari seberapa banyak yang menjadi kuantitas dan
kualitas keberhasilan Redemptive Social
Movements, darinya dengan penuh kesadaran akan melahirkan dan mewujudkan Reformative Social Movements dan
Transformative Social Movements dengan berbagai cara dan tetap dalam
lingkup nilai-nilai yang ditanamkan.
Perguliran tipe gerakan sosial
diatas akan efektif jika didukung dengan institusionalisasi gerakan. Adanya
keterkaitan dan kesinambungan di atas, layaknya bola salju yang jika digulirkan
akan semakin besar. Oleh karenanya, peran institusi menjadi penting dalam
menjaga keistiqomahan gerakan.
Institusionalisasi
gerakan yang dipaparkan Mukhaer Pakkana (Genealogi Kaum Merah,2014) sangat
menarik untuk dibahas agar menjadikan gerakan dapat berdampak jangka panjang
dan luas serta mendalam dengan nilai IMM.
Skema yang dipaparkan merupakan
upaya agar gerakan IMM, semisal gerakan sosial nantinya tetap membawa
panji-panji IMM (nilai dan visi IMM) tetap hidup dan menjadi ruh gerakan.
Filosofi Gerakan masih menjadi poin utama berangkat layaknya teologi Al-Maun
sebagai spirit Kiai Dahlan dalam mendirikan Gerakan Muhammadiyah. Ditambahkan
dalam buku genealogi kaum merah, bahwa sebab itulah dibutuhkan ada liberasi pemikiran,
sterilisasi kepentingan lain diluar kepentingan IMM dan kristalisasi paham
gerakan IMM.
Dalam hal ini, penulis mencoba
menambahkan bahwasanya sterilisasi dalam gerakan sosial bukan berarti harus
mengesampingkan kepentingan lain secara langsung, tetapi harus diiringi upaya
penyatuan kepentingan, mengingat teori Hegemoni Antonio Gramsci diatas.
Sehingga gerakan sosial bukan menjadi gerakan eksklusif yang menjadi ajang
eksistensi tiap kepentingan, namun menjadi sebuah wadah pemersatu kemajuan tatanan
sosial. Begitupun adanya gerakan sosial yang terlembagakan tidak terlepas dari
adanya faktor gerakan intelektual dan gerakan ideologis didalamnya. Mengingat
Tri Kompetensi Dasar merupakan kesatuan integral yang tidak bisa dipisahkan.
Begitupun tindakan aksi, haruslah
disertai dengan konsep penyusunan yang matang. Sehingga, diperlukan sebuah
formulasi dalam perwujudannya. Salah satu bentuk usulan dari hal itu, yakni
G-A-S-A-C.
Kesimpulan dan Saran
Gerakan sosial tidak mampu
terealisasikan tanpa adanya konsep dan praksis yang baik. Oleh karenanya
dibutuhkan kesatuan metode yang utuh dalam perumusan hingga pelaksanaan suatu
gerakan. Surat Ar-Ra’du ayat 11 menjadi landasan bagaimana pentingnya unsur
pelaku perubahan dalam suatu gerakan. Nasib suatu bangsa tidak akan pernah
berubah, tanpa adanya kemauan untuk berubah dari sang pelaku perubahan.
Lebih dari itu, tatanan sosial tidak
bisa pula dilihat secara parsial, teori hegemoni menjelaskan bahwasanya tatanan
sosial saat ini merupakan sebuah produk yang dimenangkan oleh pemangku
kekuasaan dalam melanggengkan status quo
yang dimilikinya. Lawan dari sebuah gerakan sosial yang berniat merubah ke arah
lebih baik adalah si penolak perubahan. Penolak perubahan biasanya adalah
mereka yang sedang nyaman dengan status saat ini, sehingga mempertahankan
posisi nya dengan didukung oleh berbagai instrumen yang setuju dengan ideologi
yang ia tanamkan.
Teori hegemoni menjelaskan
pentingnya penyadaran dan kristalisasi ideologi ke setiap level baik lapisan
atas, menengah, maupun bawah. Hal ini dibutuhkan mengingat gerakan sosial ini
merupakan sebuah counter-hegemoni
yang harus melibatkan segala aspek yang dapat menguatkan tujuan perubahan
tersebut. Dalam proses perubahannya, gerakan sosial dibagi menjadi empat tipe.
Pembagian tersebut berdasarkan skala perubahan yang dihasilkan. Oleh karenanya,
ada keterkaitan dan kesinambungan dari tipe gerakan terkecil hingga terbesar.
Upaya perubahan harus dimulai dari
yang terkecil, sembari terus memusatkan gerakan pada hal besar yang menjadi
cita-cita bersama, yakni tatanan sosial yang ideal. Kesinambungan gerakan
menjadi sebuah keniscayaan, sehingga institusionalisasi gerakan menjadi salah
satu jalan mencapainya. Melalui institusionalisasi gerakan seperti yang
dipaparkan oleh Mukhaer Pakkana, diharapkan gerakan menjadi lebih terang
arahnya dan berorientasi jangka panjang. Tindakan aksi yang menjadi titik akhir
dari institusionalisasi gerakan juga menjadi poin penting.
Tindakan
Aksi yang menjadi tujuan akhir dari skema Mukhaer Pakkana perlu dirangkai
dengan kerangka yang baik. Oleh karenanya, penulis mencoba mengusulkan sebuah
formula penyusunan kerangka tindakan aksi menggunakan G-A-S-A-C. G-A-S-A-C
merupakan sebuah komponen penyusunan konsep hingga ke praksis, singkatan dari Goal - Analysis - Strategy - Action - Control. GASAC menjadi skema terpadu dalam upaya perbaikan gerakan
yang harus diperbaharui dan dievaluasi pada tiap waktu.
Ket: Goal :
Tujuan, tujuan tindakan aksi ataupun gerakan sosial (visi-misi)
Analysis :
Analisa kekuatan,kelemahan,peluang dan ancaman (SWOT)
Strategy :
Perancangan strategi berdasarkan hasil analisa
Action :
Penggerakan Sumber Daya dalam merealisasikan strategi
Control :
Monitoring dan Evaluasi dari aksi guna menjadi bahan analisa
Goal
merupakan sebuah tujuan utama dari sebuah gerakan. Sebagai gerakan sosial,
tujuan haruslah dirumuskan secara matang dan penuh seksama disertai dengan
dukungan atau kesepakatan penuh internalnya. Kebersamaan dalam suatu nasib dan
suatu harapan menjadi pengikat mulia dalam meraih tujuan.
Analysis
merupakan sebuah proses analisa menggunakan Streght,
Weakness, Opportunities, dan Threatment.
Analisa kekuatan (Strenght) dan
kelemahan (Weakness) berada di tubuh
internal, sedangkan analisa kesempatan (Opportunities)
dan (Threathment) berada di luar atau
eksternal. Mengenali diri dan memahami kondisi eksternal merupakan kumpulan
data dan informasi penting dalam sebuah proses pengambilan keputusan.
Strategy
merupakan hasil turunan dari analisa, dibuat berdasarkan SMART. SMART
adalah kepanjangan dari Spesific (khusus), Measurable (terukur), Achievable (dapat diraih), Realistis (sesuai kenyataan) , dan Time-bond (batas waktu). Tolak ukur SMART juga digunakan dalam
perancangan strategi pada aksi transformasi profetis di buku Manifesto Gerakan
Intelektual Profetik.
Action
menjadi kunci, faktor kemauan dan kemampuan yang disertai dengan pengalaman
menjadikan pelaksanaan lebih tertib dan baik. Lemahnya kader dalam tahap
pelaksanaan memang mejadi pekerjaan rumah bersama, tingginya dialektika dalam
perumusan biasanya tidak disinkronkan dengan tekad dalam pelaksanaannya. Maka,
prinsip kebersamaan dan keteladanan diterapka dalamn mempertahankan
keberlanjutannya.
Control
meliputi kegiatan monitoring dan evaluating dari perbandingan sejauh mana
strategi yang telah disusun dapat diterapkan dalam pelaksanaannya. Selepas dari
itu, hasil control tidak akan kembali
ke titik goal, melainkan menjadi data
baru untuk di analisa. Sehingga, kegagalan gerakan bukan berarti penurunan atau
perubahan tujuan. Akan tetapi, menjadi refleksi dalam analisa dan menjadikan
strategi yang semakin kuat dari sebelumnya.
Demikian kesimpulan dan saran dari
pembahasan yang masih jauh dari sempurna ini, semoga menjadi perbaikan dan
kemajuan bagi ikatan. Bila benar, hanya datang dari Allah SWT. Jika salah,
menjadi koreksi bersama dalam arti sebuah proses. Semoga abad ini, menjadi
momen lahirnya banyak Dahlan muda. Dahlan adalah rakyat biasa, seorang penganut
Islam Rahmatan lil alamin yang
terbiasa dan terdidik dengan semangat pluralistik, perlawanan terhadap
kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan, serta selalu mengajak bekerja untuk
berubah ke arah kemakmuran bersama dan untuk sesama. Billahi fi sabilil haq, Fastabiqul Khoirot !
Daftar Referensi
Al-Qur’an
Al-Karim
Kartono,
Kartini. Pengantar Metodologi Research
Sosial, 1983, Bandung: Penerbit
Alumni
Suyanto,
Bagong. Anatomi dan Perkembangan Teori
Sosial (Teori Hegemoni Antonio Gramsci), 2010, Malang: Aditya Media
Publishing
Mulkan,
Abdul Munir. Kekerasan dan Konflik, 2001,
Yogyakarta: Forum LSM DIY
Ahmadi,
Makhrus. Anwar, Aminuddin. Genealogi Kaum
Merah, 2014, Yogyakarta: MIM Indigenous School
Mahardika,
Timur. Strategi Membuka Jalan Perubahan, 2006,
Bantul: Pondok Edukasi
Sani,
Abdul Halim. Manifesto Gerakan Intelektual
Profetik, 2011, Yogyakarta: Samudra Biru
Achmad,
Nur. Muhammadiyah Menjemput Perubahan
(Menggagas Muhammadiyah Masa Depan), 2005, Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Komentar
Posting Komentar